Tampilkan postingan dengan label bambang haryanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bambang haryanto. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Juli 2008

"Solocon Valley"

Oleh : Bambang Haryanto
Harian Kompas Jawa Tengah, 5 Agustus 2006



Dalam fabel Barat, kelinci adalah lambang kecepatan. Menurut kajian profesor psikologi Robert Levine dari California State University di Fresno, kelinci digambarkan harus lari pontang-panting mengikuti irama hidup di Kota London, New York, maupun Tokyo. Sedangkan di Solo, kelinci itu justru tertidur dan mendengkur!

Levine melakukan pengukuran waktu terhadap irama hidup di kota besar dan kota menengah di pelbagai belahan dunia, di antaranya Jepang (Tokyo dan Sendai), Inggris (London dan Bristol), Taiwan (Taipei dan Tainan), Indonesia (Jakarta dan Solo), Italia (Roma dan Florence), dan Amerika Serikat (New York dan Rochester). Risetnya mengkaji tiga indikasi dasar: akurasi jam pada kantor bank, kecepatan pejalan kaki, dan kecepatan pegawai kantor pos melayani pembelian prangko.

Akurasi waktu terbaik diraih Jepang. Indonesia menempati peringkat paling buncit dari enam negara itu. Kecepatan seseorang berjalan kaki menempuh jarak 100 kaki, menempatkan orang Indonesia berstatus paling lambat.

Hasil riset Robert Levine yang dituangkan dalam majalah Psychology Today (3/1985) memberikan ilustrasi ketika ia mengukur efisiensi petugas pos melayani pembelian prangko. Di Solo, saat ia antre, pegawai pos yang menjual prangko malah asyik mengajaknya ngobrol membicarakan kerabatnya yang tinggal di Amerika Serikat (AS).


Selamat datang di Solo, kota dengan waktu tersedia melimpah di sana. Merujuk fenomena yang disebut sebagai waktu sosial atau denyut jantung masyarakat dalam memaknai waktu, masyarakat Solo khususnya dan masyarakat Jawa pada umumnya, memiliki pandangan unik.

Secara matematis, manusia hidup dalam hitungan waktu yang sama, 24 jam sehari, tetapi tidak semua budaya di dunia memaknainya secara sama. Barat memaknai waktu sebagai komoditas yang pasti habis. Waktu adalah uang. Tetapi, Jawa menganggap waktu sebagai proses siklus, sesuatu yang dapat terulang kembali.

Pemaknaan waktu khas masyarakat Jawa oleh pakar pemasaran Kafi Kurnia diungkap dengan ilustrasi menarik tentang fenomena umum di Solo. Ia sebutkan pemandangan unik, tukang becak yang tertidur ketika menunggu konsumennya. Juga budaya ngobrol di lapak wedangan yang terasa kental di Solo. Kafi Kurnia menantang, mengapa tidak menjual Kota Solo sebagai kota yang ideal untuk membunuh waktu, untuk santai-santai atau berbincang-bincang?

Tantangan menarik. Terlebih dalam konteks era network economy, ekonomi jaringan dalam dunia digital dewasa ini,

Kita dapat menyimak pandangan Kevin Kelly yang mampu memberikan perspektif baru yang brilian. Dalam karya tulis tonggak yang inspiratif, New Rules for the New Economy: Twelve Dependable Principles for Thriving in a Turbulent World (Wired, September 1997), ia katakan, Peter Drucker mencatat dalam abad industri, setiap pekerja yang mampu mengerjakan pekerjaannya secara lebih baik disebut sebagai produktivitas.

Namun, dalam ekonomi jaringan saat kebanyakan mesin mengerjakan pekerjaan manufaktur yang tak cocok untuk manusia, tugas setiap pekerja bukan "bagaimana mengerjakan pekerjaan secara benar", tetapi "pekerjaan apa yang benar untuk dikerjakan?" Di era mendatang, mengerjakan segala sesuatu secara benar jauh lebih produktif dibanding mengerjakan hal yang sama secara lebih baik.

Bagaimana seseorang secara mudah mengukur sense penting dalam eksplorasi dan penemuan? Semua ini tidak terlihat dalam parameter atau patok duga produktivitas. Sejatinya, menurut dia, menghambur- hamburkan waktu dan bekerja tidak efisien, merupakan jalan menuju penemuan. Situs web yang dioperasikan anak muda seumuran 20 tahun dapat terwujud, karena ia mampu menghabiskan waktu 50 jam untuk menjadi ahli merancang situs web.

Pekerja usia 40-an tahun tidak dapat mengambil liburan tanpa berpikir bagaimana dia menentukan apakah berlibur itu bisa disebut sebagai produktif atau tidak, sementara si anak muda tadi tinggal mengikuti naluri dan menciptakan beragam hal baru dalam desain web, tanpa menghitung apakah yang dilakukan itu efisien atau tidak. Dari otak-atik yang tak efisien itulah hadir masa depan.

Dalam era ekonomi jaringan, produktivitas bukan masalah krusial, karena kemampuan dalam menyelesaikan masalah sosial dan ekonomi kebanyakan dikekang, dibatasi, terutama oleh kurangnya imajinasi dalam menemukan peluang dibanding usaha mengoptimalkan solusi.

Seperti simpul Peter Drucker yang dikutip George Gilder, rumusnya berbunyi, "Jangan menyelesaikan masalah, tetapi carilah peluang. Apabila Anda menyelesaikan sesuatu masalah, Anda berinvestasi bagi kelemahan Anda. Tetapi bila Anda mencari peluang, maka Anda dapat memercayai jaringan, network."

Solo pun pernah melahirkan tokoh inovator, seperti Ronggowarsito, Yosodipuro, Martopangrawit, sampai Sardono W Kusumo, Rendra, dan Arswendo Atmowiloto. Bahkan juga tokoh sekaliber Ahmad Baiquni dan Amien Rais. Kini, Mayor Haristanto dengan Republik Aeng- Aeng-nya.

Merujuk modal besar Solo seperti disebut Kafi Kurnia dan terlebih peluangnya bersinergi dengan budaya ekonomi jaringan yang mengedepankan inovasi, seluruh stakeholder Kota Solo memiliki tantangan bagaimana mengubah kotanya jadi magnit bagi kalangan inovator, dari mana pun di dunia, untuk datang di Solo.

Akhirnya, sebagai warga kelahiran Solo dan merujuk pada gagasan pembangunan Techno Park di Mojosongo, saya ingin beriur gagasan dengan memimpikan Solo sebagai Solocon Valley, plesetan dari Silicon Valley, kluster area di negara bagian California, AS, yang dihuni perusahaan teknologi informasi ternama AS. Pekerjanya di sana yang merupakan otak-otak brilian itu ibarat campuran seniman dan ilmuwan.

Atmosfer suasana kerja yang tak formal karena kekakuan birokrasi akan membunuh inovasi, mereka pun berinteraksi dan mematangkan ide di kafe, dengan obrolan hingga larut malam, yang suasananya tak jauh berbeda dari suasana lapak wedangan di Solo.


Bambang Haryanto, pengamat sosial, tinggal di Kabupaten Wonogiri

raa

Presiden Aeng-Aeng dari "Keluarga Sableng"

Oleh : Abduh Imanulhaq
Harian Suara Merdeka, Minggu, 26 Maret 2008


Mayor Haristanto bukan jin. Tapi dia bisa mengubah hal-hal yang dianggap mustahil menjadi terlihat gampang. Kesanggupan mewujudkan mimpi, lebih tepatnya ide, membedakan pria kelahiran Wonogiri ini dengan orang kebanyakan. Tatkala banyak kalangan masih ragu untuk bertindak, dia telah berada selangkah di depan.

Ide-idenya bernas. Tahun 2000, Mayor menggagas lahirnya kelompok suporter sepak bola Solo, Pasoepati. Tahun berikutnya, suami Nani Mayor itu turut membidani kelahiran kelompok suporter The Macz Man (PSM Makassar), Asykar Teking (PSPS Pekanbaru), dan Persmanisti (Persma Manado). Empat rekor Muri (Museum Rekor Indonesia) telah dicetaknya.

Selain memrakarsai kelahiran komunitas-komunitas suporter, penghargaan itu diperolehnya karena menggagas karangan bunga terbanyak pengucapnya, tim kampanye artis yang dipilih lewat SMS terbanyak, dan menumbangkan rekor karangan bunga terbanyak pengucap sebelumnya.

Jauh sebelumnya, tahun 1982, Mayor menyelenggarakan pameran kartun karya anak-anak di Jakarta dan Semarang. Konon, itulah kali pertama kartun buatan anak-anak dipamerkan. "Kegilaannya" semakin menjadi-jadi setelah idenya tentang kelompok suporter Solo yang kreatif terwujud.

Festival Aeng-aeng, sepak bola kolosal gaya Solo dengan 102 pemain, three on three Solo Football Fun Games -sepakbola berkonsep basket, pembentangan spanduk suporter terbesar adalah beberapa idenya yang cukup menggemparkan.

Tak hanya itu. Mayor juga membawa anak-anak sekolah dasar ke tengah sawah. Praktisi periklanan ini mengenalkan anak-anak dengan kehidupan petani. Para pelajar yang masih mungil itu ikut memanen padi dan menggotong gabah. Mereka juga bergelut dengan pekatnya lumpur.

Tujuannya: memperkenalkan pertanian Indonesia dan memupuk empati kepada petani. Sekali waktu, anak-anak ini juga dibawanya mengunjungi para pemain Persis Solo yang sedang berlatih. Menurutnya, jiwa sportivitas lewat olah raga perlu ditanamkan sedari dini. Masih panjang sederet ide-idenya yang terwujud dan terekam oleh media. Namun, dia belum mau berhenti.

"Ide-ide itu mengalir saja. Kadang saat saya bangun pagi terlintas ide. Lagi duduk santai atau berjalan. Di tengah keramaian atau saat sendirian. Semuanya datang, alakazam! Dan saya menganggapnya bukan mimpi kosong, meski orang lain menganggapnya demikian. Maka saya pun berjalan, melobi, mempersiapkan A-Z, mendekati media, dan menjadikannya nyata."

Photobucket

Keluarga suporter. Keluarga Mayor Haristanto mempraktekkan budaya suporter dalam kehidupan sehari-hari. Semua ide dicoba didengarkan secara terbuka dan mendapatkan dukungan sepenuhnya dari anggota keluarga lainnya ketika dilaksanakan.


Presiden Republik Aeng Aeng. Itulah jabatan yang disandangnya saat ini. Republik Aeng Aeng disebut Mayor sebagai "negara" bagi ide-ide kreatifnya. Lewat wadah yang didirikannya itu dia terus berkreasi, mewujudkan hal-hal yang mungkin terdengar mustahil.

Stadion, lapangan, sawah, jalan, bahkan pasar menjadi tempatnya berkarya. Aeng Aeng sendiri bermakna nganeh-nganehi, unik yang positif. Dengan sinikal Mayor menyebutnya OTB, organisasi tanpa bentuk. Republik Aeng Aeng memang tak memiliki struktur dan tak punya anggaran dasar. Bukan yayasan atau pun paguyuban.

Pria yang lahir 15 Mei 1959 ini putra keempat dari 10 bersaudara. Anak pasangan Kapten Kastanto Hendrowiharso dan Sukarni itu dikenal ulet dan pantang menyerah. Nama Mayor sendiri pemberian bapaknya yang seorang tentara. "Mengapa Mayor? Pangkat itu setingkat lebih tinggi dari pangkat ayah. Dengan nama itu beliau berharap, putranya ini bisa melebihinya."

Namun, tak satu pun putra-putri Kastanto yang masuk ke dinas militer. Putra tertua, Bambang Haryanto dikenal sebagai penulis kreatif, pendiri komunitas Epistoholik Indonesia.

Putra yang lain, Broto Happy W menjadi wartawan di salah satu tabloid olahraga nasional, Bola. "Ayah saya tak ingin anak-anaknya mengikuti jejak beliau. 'Menjadi tentara itu berat, cukup saya yang menjalani', begitu selalu katanya." Saudara Mayor yang lain memiliki profesi berbeda-beda. Ada yang menjadi dosen, karyawan atau berwiraswasta.

Menurut Ayu Permata Pekerti, anak pertama Mayor, semua saudara ayahnya memang termasuk aeng-aeng. Jika keluarga besar itu bertemu, ramailah tingkah-polah mereka yang unik dan slebor. Ayu bersama adiknya, Lintang Rembulan, kadang takjub menyaksikan "kegilaan" atau "kesablengan" mereka.

Jalan hidup Mayor tak selalu mulus. Saat menjabat Presiden Pasoepati (2000-2001), tudingan miring kerap menerpanya. Alumni Jurusan Pemerintahan UGM ini kerap dianggap selalu bekerja sendiri, single fighter atau one-man show. Dia juga dituding otoriter. Pasoepati juga dituduh hanya dimanfaatkan sebagai kendaraannya untuk menguasai kue iklan. Kendala ekonomi juga memaksanya mundur dari struktur Pasoepati.

Tapi Mayor bergeming. Republik Aeng Aeng disebutnya sebagai jawaban bagi mereka yang meragukan kemampuannya. Seperti pengakuannya, dia masih ingin terus berkarya. Mayor memang tak pernah "mati". Gagasannya terus lahir dan lahir terus.


raa

Festival Aeng-Aeng di Solo : Membangun Pemikiran Alternatif

Oleh : Thomas Pudjo Widiyanto
Kompas, Selasa, 14 Mei 2002


Festival Aeng-Aeng, dalam Bahasa Indonesia artinya festival aneh-aneh. Ya aneh-aneh itu kenyataan dalam Festival Aeng-Aeng di Solo, Minggu (12/5/2002). Festival yang berlangsung hanya dua jam yang menampilkan sekitar 15 peserta ini, banyak mendapat perhatian pengunjung.

Pongki Soepono (57) penjual onde-onde asal Solo, memamerkan karya onde-onde yang berdiameter 15 sentimeter. Onde-onde adalah makanan berbentuk bulat khas Solo, yang terbuat dari gandum dan di dalamnya berisi adonan kacang hijau rasa manis.

Masih berkait dengan makanan ini, Sukatno (57) dari Tawangmangu memamerkan ketidaklaziman makanan sate, yaitu sate daging hewan landak. Setiap pengunjung yang hadir, diminta mencicipi sate itu, dan enak.

Murdoko (33) asal Solo membuat papan catur untuk empat pasang pemain, yang diberi nama Indo Chess. Gagasan orisinal itu, nyaman juga ketika dipraktikkan untuk main catur. Ibnu Syarif, menciptakan tasbih raksasa, ukurannya sekitar tiga meter dan biji tasbeh yang terbuat dari kayu, sebesar kepala orang dewasa.

Orang pasti akan tertipu ketika Tom Hari (66) warga Kepunton membawa tas koper karyanya. Karena begitu dibuka koper itu akan membentuk sebuah kursi atau tempat duduk dengan empat kaki. Koper yang dipamerkan oleh Tom, bisa digunakan sebagai tempat barang, sekaligus untuk duduk.

Replika syair lagu Bengawan Solo karya Gesang, yang dipamerkan oleh Maryono benar-benar aeng. Replika itu dari bahan triplek selebar kertas kuarto. Huruf tidak ditulis dengan tinta, tetapi dengan cara digergaji. Sungguh kerja yang rumit dan butuh ketekunan.

Atau Suyadi menuangkan perasaannya dengan membuat lukisan dari mesin ketik. Tebal tipisnya bagian-bagian lukisan itu, tergantung dari hentakan keras lembutnya dalam menekan huruf-huruf mesin ketik. “Dan itu berarti penuangan perasaan yang sangat dalam,” katanya.

Lebih aeng lagi Mayor Haristanto, yang memiliki profesi langka yaitu menjadi konsultan penggalangan supporter sepakbola. Setidaknya dia sudah tiga kali dia diundang memberikan konsultasi terbentuknya kelompok supporter PSM Ujung Pandang, PSPS Pekanbaru, dan Persma Manado. Dia pribadi pula yang akhirnya ikut membidani lahirnya grup supporter tiga klub sepakbola itu. “Sebagai konsultan saya diundang dan juga dibayar,” tegasnya.

Barangkali yang menarik dari festival ini adalah konsep yang kemudian muncul di balik ide pemikiran festival Aeng-Aeng itu. Secara tidak langsung, festival itu mengajak orang berpikir alternatif.

“Festival ini sengaja kita gunakan mengajak masyarakat untuk tidak berpikir yang mapan-mapan saja. Berpikir aeng-aeng adalah berpikir berani, karena tidak dibatasai oleh koridor-koridor baku,” kata Mayor Haristanto pemrakarsa festival ini.

Bambang Haryanto, kolega Mayor Haristanto yang ikut membidani lahirnya festival ini menyatakan, dalam tataran anak, misalnya di sekolah dasar, seringkali kreativitas yang aeng-aeng ditabukan dengan pemali yang diciptakan oleh guru, sehingga anak tidak bisa mengembangkan pemikiran kreatifnya. “Festival inilah ingin menghilangkan semua. Karena itu, festival semacam ini layak ditonton oleh anak-anak sekolah, biar sejak kecil mereka terpacu untuk berpikir alternatif,” katanya.

Dan dari festival ini pula tampaknya bisa mengangkat “mutiara-mutiara” kreatif yang terpendam di negeri ini. Seperti Hio Aryanto dari Purwosari Solo, banyak memiliki karya kreatif. Kalau pameran ini direncanakan setiap bulan, Aryanto siap ikut sebelas bulan, karena dia memiliki 11 karya alternatif yang masih dirahasiakan.


raa